Jumat, 26 Mei 2017
Transfer kepala ?
Transplantasi anggota tubuh memang sering dilakukan untuk menggantikan bagian tubuh yang telah hilang,cacat atau rusak. biasanya dilakukan hanya untuk organ dalam yang vital atau bagian tubuh yang memang bisa digantikan fungsinya.
Tapi bagaimana dengan kepala ?
Bukankah ini bagian yang terlalu vital untuk dipindah tempatkan?
Sebenarnya jauh sebelum sergio canavero atau Ren xiaoping mempersembahkan ide gilanya pada dunia, sayapun sudah terfikir hal yang sama dulu
bukan karena saya pengikut orochimaru juga tentunya *ROTFL* ...dulu saya pernah bertanya pada seorang teman, Mungkinkan memindahkan otak ke tubuh lain? Dia bilang mustahil karna jumlah sistem saraf di otak dan tulang belakang yang begitu kompleks dan rumit. Hempppp padahal tadinya saya berniat tukar tubuh dengan dia hahahaa...
jika seseorang mati maka tubuh atau otaknya dulu kah yang berhenti berfungsi?
Seseorang baru dinyatakan meninggal jika otaknya telah berhenti penuh dalam setiap respon.
Lalu bagaimana jika tubuhnya lebih dulu berhenti merespon sedangkan otaknya masih hidup?
keadaan seperti Inilah yang disebut koma.
Ada suatu masanya
semua anggota tubuh telah berhenti berfungsi secara sistematis bahkan sampai ke fungsi motoriknya,semua disokong alat bantu untuk tetap disebut sebagai "Hidup".
sementara otak tetap berfungsi menerima dan mengirim informasi keseluruh tubuh yang tidak lagi merespon, namun dikarnakan terlalu menelan biaya dan membuat penderitanya semakin menjalani kehidupan yang setengah menyengsarakan maka biasanya akan dilakukan euthanasia
Atau secara legalnya disebut "dibunuh dengan persetujuan"
Serba salah memang jika keadaan seperti ini.
Namun bayangkan jika cangkok kepala berhasil? Mungkinkah ini solusi bagi para penderita koma atau kelainan tubuh lainnya?
Lalu hak manakah yang perlu dipenuhi? Sang pemilik kepala atau Tubuh?
Berapa besar kemungkinan berhasilnya?
Dari percobaan yang pernah dilakukan pada primata belum ada catatan yang bisa dibilang berhasil.
Memang tubuh manusia sedikit lebih kompleks dari seekor monyet tapi (-+)90% DNA primata memang yang paling mirip dengan manusia. jadi tak salah mengambil referensi dari mahluk yang paling dekat secara cetak biru itu.
Masalahnya setelah semua organ dan sistem saraf tersambung apa akan selesai begitu saja ?
Justru inilah masa kritisnya.
tak mudah bagi tubuh manusia menerima sinyal dari otak yang baru. perbedaan usia antara tubuh dan kepala juga bisa jadi berpengaruh...saya rasa inilah yang akan membunuh para pasien beberapa saat setelah operasi.
Adakah solusinya?
Sebelum benar-benar hidup, otak dan tubuh harus menerima rangsangan elektrik dalam skala kecil secara simultan.induksi yang terus menerus ini akan diikuti pergerakan skala elektron yang stabil untuk melewati masa kritis.
tujuannya adalah memberikan penyelarasan pada sinyal otak untuk bisa diterima oleh tubuh baru.
setelah otak dan tubuh berada pada getaran yang sama maka akan saling memberikan timbal balik respon dengan sendirinya. Tak selesai sampai disitu saja untuk melakukan gerakan motorik kecil butuh penyesuaian yang cukup lama. karna otak manusia yang cenderung meledak ledak atau aktiv secara kontinyu maka akan menyebabkan kekacauan sistem tubuh.ini disebabkan kondisi dimatikannya otak saat operasi untuk jangka yang lama, maka saat sadar otak langsung mengirim informasi dalam ukuran besar keseluruh tubuh dikarnakan ingatan yang dimiliki pasien akan mulai mencerna keadaan dan disinilah kekacauan akan terjadi.
Bahkan setelah beberapa waktupun bisa saja ketika pasien diminta menggerakan tangan kanan, otaknya yang aktiv akan mengingat segala macam aktifitas yang dilakukan oleh tangan kanan dan berakhir dengan ketidaksiapan tubuh yang belum stabil atau tak biasa melakukan aktifitas dengan tangan kanan.
Bagaimana mencegah kekacauan motorik di jam kritis semacam ini ? Jawabannya ada di bagian otak. Aktifitasnya harus di redam agar tak langsung aktif.
namun bukankan beresiko setelah cukup lama dalam pembiusan kemudian mengaktifkan otak sebagiannya saja?
Ya terlalu lama menonaktifkan otak, bisa menyebabkan kerusakan secara permanent dan berakibat kelumpuhan, seperti yang terjadi pada monyetnya dr.Ren walaupun saya lebih yakin kalau tubuh baru mahluk malang itu tak bisa menerima ledakan aktifitas otaknya yang mendadak.
Untuk itu perlu diperhatikan asupan oksigen yang dibutuhkan otak namun juga harus mencegahnya dari aktif keseluruhan yang artinya mencegah semua sistem saraf aktif di awal masa operasi...bahkan sepertinya akan lebih menjanjikan kalau penyambungan dilakukan secara bertahap mulai dari fungsi organ baru setelah itu ke fungsi motorik.
Sehingga kinerja seluruh tubuh dilakukan secara pelan.
Dalam tahap ini resiko bagi pasien akan mengalami kecacatan mental karna sifat observer otak manusia yang cenderung sulit dimatikan, pasien akan merasa sedang dalam mimpi tapi otaknya terus bergerak menyeimbangkan tubuh baru. jika terlalu lama dalam keadaan ini kesadaran dan sistem fungsional takkan berjalan berbarengan dan terus memisahkan diri hingga terbiasa...yaa pasien akan menjadi gila karna terpisahnya kesadaran dengan kinerja otaknya untuk tubuh.Waktu adalah moment terpenting dalam operasi ini karna sedikit terlalu cepat atau terlalu lambat maka akan beresiko besar terhadap pasien kedepannya.
operasi ini harus berjalan dalam Skala neuro untuk berhasil.
Namun jika 99% sukses mungkinkah masa depan akan dipenuhi orang dengan tubuh lain?
bayangkan seorang koruptor yang kabur lalu mengganti tubuhnya dengan orang lain yang tak bersalah ? Atau seorang penyakitan yang terus berpindah pindah tubuh agar tetap hidup ?
Entah akan jadi apa kemanusiaan dimasa depan bisa saja tubuh tak lebih dari baju sekali pakai yang bisa dibeli.
setinggi apapapun ilmu pengetahuan,ketika manusia mulai mengabaikan etika, mulai kehilangan sisi kemanusiaan maka tak jauh bedalah kita dengan exsistensi benda mati lain dialam semesta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar